Keiko merasa seluruh tubuhnya terbakar, menggigil, dan lumpuh seketika. Ia merasa lidahnya kelu dan tiba-tiba saja seluruh syaraf penglihatannya kabur. "Bagaimana aku bisa melakukan ini?" pikirnya "Andaikan aku bisa mengulang waktu ini.. Oh Tuhan" Malam baru saja dimulai, dengan mengenakan mantelnya Keiko beranjak keluar dari kamarnya.
Saat ini, Ryuu sedang menggengam ponselnya dan memandangi text mail yang baru saja masuk. Ternyata itu dari Keiko, begitu huruf Hiragana terpampang jelas dilyar ponsel Ryuu. Ia menekan layar ponsel dengan ibu jarinya, kemudian membaca pesan tersebut. "Kenapa.. Kenapa aku berdebar-debar" pikirnya.
"Ryuu... Tolong ambilkan sashimi diatas meja" teriak Ibu Ryu dari ruang tatami "Ah.. Baik bu.." Ryuu mengambil sashimi dan melangkah ke dalam ruang tatami. Disana sudah ada Okasan, Otosan, dan Yuji-san kakak Ryuu. "Hei.. Ayo makan bersama, sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini" ucap Otosan. "Ah.. Otosan aku tidak bisa makan bersama saat ini.." kata Ryuu "Ada apa Ryuu?" tanya Okasan "Tidak apa-apa bu, aku hanya.. Aku sudah ada janji dengan temanku.." "Baiklah.. Mungkin tidak hari ini, Pulang sebelum larut malam ya" Otosan megizinkan.
Malam ini udara dingin begitu menusuk, banyak gang-gang sepi di prefektur Saitama. Namun, tak menghalangi langkah Keiko untuk terus menyusuri jalan menuju tempat itu. Ia terus mendekapkan kedua tangannya dibalik mantel. Merapatkan setiap sisi mantel yang terbuka. Salju terus terus menerus turun sebagai serpihan kecil halus yang nampak bersahabat. Angin sayup-sayup menderu menerbangkan beberapa helai rambut Keiko yang ia biarkan tergerai. Kakinya mulai lunglai, lesu. Rasanya aku ingin sekali berisirahat disini, pikir Keiko. Tapi disudut gang itu nampak kegelapan berselimut, hawa dingin mencekam.
Tiba - tiba terdengar suara langkah kaki dari arah kegelapan itu."Keiko.. Keiko.." teriak seseorang
"Ryuu.. kau datang menemuiku?" tanya Keiko setelah Ryuu tepat dihadapannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar